Oleh:
Imam Agus Taufiq
لَقَدْ جَاۤءَكُمْ رَسُوْلٌ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ عَزِيْزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِيْنَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ. فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۗ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيم
Peringatan
Maulid Nabi menjadi pengingat bahwa cinta dan keimanan kita hari ini adalah
karunia besar yang harus dijaga, diamalkan, dan diwariskan kepada generasi
berikutnya. Cinta kepada Nabi tidak akan sempurna kecuali jika diwujudkan dalam
bentuk ketakwaan kepada Allah. Rasulullah saw diutus bukan hanya untuk
dicintai, tetapi juga untuk ditaati. Dengan mencintai beliau, kita terdorong
untuk menjalankan perintah Allah dengan penuh kesungguhan, meneladani akhlak
beliau, dan berusaha sekuat tenaga menjadikan hidup kita lebih bermakna di hadapan-Nya.
Ayat di atas tidak hanya menegaskan kedekatan Nabi dengan umatnya, tetapi juga menghadirkan empat sifat utama yang sangat relevan bagi siapa pun yang memegang amanah kepemimpinan. Pertama, Nabi selalu mampu merasakan penderitaan rakyat. Seorang pemimpin yang baik adalah pemimpin yang merasakan penderitaan rakyatnya. Rasulullah saw digambarkan sebagai sosok yang berat hatinya melihat kesulitan umat. Hal ini mengajarkan bahwa pemimpin sejati tidak boleh abai terhadap jeritan rakyat, melainkan hadir untuk mencari solusi, bukan hanya janji. Dalam kaidah fiqih, disebutkan: تَصَرُّفُ اْلإمَام عَلَى الرَّعِيَّةِ مَنُوْطٌ بِالْمَصْلَحَةِ
Artinya:
”Tindakan penguasa terhadap rakyat harus terarah untuk mencapai kemaslahatan.”
Kedua,
Nabi Selalu Mengharapkan Kebaikan dan Keselamatan bagi Umat Nabi memiliki
kepedulian besar agar umatnya berada dalam kebaikan dan keselamatan. Pemimpin
yang meneladani sifat ini tidak hanya fokus pada keuntungan pribadi atau
golongan, tetapi benar-benar berjuang demi kesejahteraan bersama, termasuk
aspek iman, moral, ekonomi, sosial, dan sebagainya. Seorang pemimpin harus peka
terhadap kondisi rakyatnya dan mengambil kebijakan untuk kemaslahatan umum,
bukan untuk kepentingan dirinya.
Ketiga,
Nabi selalu bersikap penyantun. Kesantunan adalah kelembutan hati yang
ditunjukkan dalam sikap dan kebijakan. Rasulullah saw mencontohkan bagaimana
kekuasaan tidak boleh diwarnai dengan kekerasan sewenang-wenang. Pemimpin yang santun akan
mampu mengayomi masyarakat dengan bijaksana dan menumbuhkan rasa hormat, bukan
ketakutan. Pemimpin harus mampu manjaga akhlak dan kesantunannya seperti
menggunakan pilihan kata yang tepat saat berbicara dan memberikan
pernyataan. Pemimpin tidak boleh menyakiti hati rakyatnya dengan kata-kata
yang tidak pantas untuk diucapkan dan menimbulkan kegaduhan di tengah-tengah masyarakat.
Rasulullah dalam haditsnya telah mengingatkan untuk memiliki akhlak yang baik dalam pergaulan: اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
Artinya:
“Betakwalah kalian di manapun kalian berada. Iringilah keburukan dengan
kebaikan yang mana itu bisa menghapusnya, dan pergaulilah orang-orang dengan
akhlak yang baik” (HR Imam At-Turmudzi).
Keempat, nabi selalu penuh kasih sayang. Kasih sayang merupakan fondasi kepemimpinan
yang paling mendasar. Rasulullah saw selalu menghadirkan kasih sayang, terutama
kepada orang-orang mukmin. Sifat ini mengajarkan bahwa kepemimpinan harus
didasarkan pada cinta dan kepedulian, bukan kebencian atau kepentingan politik
semata. Ketika kasih sayang selalu tertanam dalam diri seorang pemimpin, maka
hati rakyatnya akan penuh dengan kedamaian.
Empat sifat yang digambarkan dalam surat At-Taubah ayat 128 telah memberikan pedoman berharga bagi siapa saja yang mengemban amanah sebagai pemimpin. Rasulullah saw hadir bukan hanya sebagai teladan spiritual, tetapi juga sebagai contoh nyata bagaimana kepemimpinan harus dijalankan yakni peka terhadap penderitaan, berorientasi pada kebaikan umat, santun, dan penuh kasih sayang. Jika empat sifat ini mampu dihidupkan kembali dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, maka insyaAllah kepemimpinan akan benar-benar membawa rahmat dan keberkahan bagi seluruh rakyat. Aamiin....
Tulungagung, 16 September 2025.

Komentar
Posting Komentar