Oleh:
Imam Agus Taufiq
Kamis, 26 Desember 2024 sekitar pukul 12.45 WIB tiba-tiba ponsel saya berbunyi. Mendengar itu, saya bergegas menuju ponsel yang berada di dekat computer. Tanpa basa-basi, saya segera mengangkat telpon. Ternyata telpon itu, salah satu kolega penyuluh kecamatan yang meminta tolong untuk menggantikan kajian rutin IMUD (Ibu-ibu muda). Kebetulan, kolega saya tidak bisa hadir dengan alasan ada kabar duka dari salah satu keluarganya. Sehingga harus mencari badzal (pengganti) dalam waktu singkat di kajian rutinnya. Saya pun akhirnya tidak bisa menolak, dan mengiyakan mendatangi kajian rutin tanpa berpikir panjang apa nanti kitab yang dikaji.
Sebelum menutup telpon, kolega saya mengatakan"Nanti yang dikaji kitab Minhaj al Abidin bab makna taubat sejati" mendengar itu, saya harus segera bergegas mencari kitab dan membuka sebentar ala kadarnya. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 13.00 WIB, Saya segera berangkat di majlis taklim binaan kolega saya. Tiba di lokasi, saya sudah ditunggu IMUD (Ibu-ibu muda) dan mempersilahkan masuk.
Tibalah giliran saya, singkat cerita saya memulai dengan mengucapkan salam, hamdalah, sholawat. Tak lupa sebelum mengkaji kitab, saya hidiah fatihah kepada nabi, para sahabat, tabi'in, muassis NU, orang yang berjuang demi NU, dan terkhusus pengarang kitab Minhaj Al Abidin. Dengan bacaan basmalah mualilah materi tentang makna taubat sejati. Sering terbesit dalam hati, apa makna taubat sejati?Taubat adalah laku batin yang jika dilakukan dengan benar akan mensucikan hati dari dosa. Taubat menurut Imam al Haramain adalah segala upaya untuk tidak mengulangi perbuatan dosa masa lalu yang sama levelnya bukan bentuknya demi mengagungkan Allah swt, dan demi menghindari murka-Nya.
Ada empat sarat taubat sejati versi Imam Al Ghazali: Pertama, berniat sungguh-sungguh meninggalkan perbuatan dosa. Seorang hamba harus membulatkan hati dan bertekad kuat untuk tidak akan pernah mengulangi perbuatan dosa lagi. Jika seorang hamba meninggalkan dosa, namun dalam hatinya masih ada kemungkinan untuk mengulanginya kembali atau dalam hatinya belum ada kemantapan dan masih menyisakan kemungkinan untuk kembali mengulangi, maka sesungguhnya seorang hamba ini hanya terhindar dari dosa, dan bukan orang yang sungguh-sungguh bertobat.
Kedua, bertaubat dari perbuatan yang sudah pernah dilakukan. Sebab jika seorang hamba belum pernah melakukan dosa, tentu dia kategori muttaqin bukan disebut orang yang bertaubat (ta'ib). Oleh karena itu, sudah tepat seorang panutan kita, yakni baginda Agung Muhammad dapat julukan muttaqin.
Ketiga, dosa yang dahulu pernah dilakukan harus dihindari pengulangannya dengan cara mengabaikan kesempatan untuk berbuat dosa yang sama levelnya meskipun berbeda modelnya.
Keempat, usaha meninggalkan pengulangan dosa yang pernah dilakukannya diniatkan semata-mata untuk mengagungkan Allah serta menjauhi murka dan siksa-Nya yang pedih, bukan karena kesenangan duniawi, takut terhadap manusia, hasrat ingin dipuji, reputasi, jabatan, kelemahan pribadi, kemiskinan, dan sebagainya.
Akhirnya, sang pengganti menggaris bawahi bahwa dalam kaitan taubat sejati perlu empat hal di atas. Keempat hal saya menyebutnya sarat dan rukun taubat. Barang siapa berhasil menyempurnakan keempat hal tersebut, itulah yang disebut taubat sejati.
late post.
Kalidawir, 27 Desember 2024.
Komentar
Posting Komentar