Langsung ke konten utama

Rasa Syukur

 Oleh:
Imam Agus Taufiq



Hari ini, saya mengucap syukur kepada Allah swt atas anugerah usia yang telah diberikan. Setiap detik dalam hidup ini adalah hadiah yang berharga, penuh dengan pelajaran, kenangan, dan pengalaman yang tak ternilai. Di hari yang istimewa ini, saya merenungkan segala hal baik yang telah terjadi dalam hidup saya dan semua orang yang telah hadir dengan kasih sayang, dukungan, dan cinta.

Saya bersyukur atas setiap langkah yang  saya tempuh, baik yang mudah maupun yang sulit, karena semua itu telah membentuk diri saya menjadi pribadi yang lebih baik. Terima kasih kepada keluarga dan sahabat yang selalu ada di sisiku, serta kepada setiap orang yang telah menginspirasi dan membantuku sepanjang perjalanan ini.

Semoga di tahun-tahun yang akan datang, saya bisa terus tumbuh menjadi pribadi yang lebih bijaksana, kuat, dan penuh cinta. Saya berharap bisa memberikan yang terbaik bagi dunia, seiring dengan bertambahnya usia. Segala puji dan syukur  saya persembahkan kepada Tuhan yang Maha Esa, yang selalu memberikan berkah-Nya tanpa henti dan tiada tara. 

Terima kasih untuk semuanya. Saya siap untuk melangkah ke babak berikutnya dalam hidup dengan penuh rasa syukur dan harapan. Semoga anugerah, kasih sayang Allah swt selalu melimpah dan membawa berkah, serta terus menggerakkan untuk berlomba-lomba dalam hal kebaikan. Aamiin...شكرا يكون سبب المزيد، لعبده من فضله المد يد    ب
الا ليت الشباب يعود يوما، فأخبره بمفاعل المسيب.
وعمرى ناقص فى كل يوم، ونبى زائد كيف احتمال

Kalidawir, 3 September 2024.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jejaring Santri Tegalsari Ponorogo di Tulungagung

Oleh: Imam Agus Taufiq Jejaring Pesantren Tegalsari Ponorogo yang ada di Tulungagung dapat diungkap melalui salah satu ipar Kyai Muhammad Ageng Besari, yaitu Raden Witono/ Syekh Hasan Ghozali yang berkiprah di Tulungagung. Hasil pernikahannya dengan Nyai Jarakan, Syekh Hasan Ghozali memiliki putra-putri antara lain  Kyai Imam Jauhari Mahmud (Notorejo Gondang Tulungagung), Kyai Muntaha (Mbah Muntaha Jarakan Gondang Tulungagung), Kyai Gembrang Serang ( Kyai Ageng Nur Rahmatullah), dan Nyai Robi'ah. Nama lain Syekh Hasan Ghozali Kalangbret, Tulungagung adalah Kyai Ageng Witono atau Kyai Naib Witono atau Kyai Mangun Witono. Mengapa disebut Mbah Witono karena Syekh Hasan Ghozali merupakan sosok yang pertama kali mengadakan kajian-kajian Islam (wiwitane ono: Jawa) di daerah Kalangbret Tulungagung. Syekh Hasan Ghozali sering bersilaturrahmi dengan keluarga-keluarga dari Raden Setro Menggolo ( Syekh Abu Naim Fathullahyang makamnya terletak di barat makam Sentono Lodoyo Blitar) dan Raden Ra...

Ketentraman Hati

 Oleh : Imam Agus Taufiq Di tahun 2021 tentunya setiap orang mempunyai harapan baru. Saya yakin bahwa dengan bergulirnya  tahun baru seiring perjalanan ruang dan waktu pasti mereka ingin menjadikan apa yang mereka kerjakan hari ini harus lebih baik dari hari kemarin. Mengingat bahwa termasuk tanda-tanda orang beruntung adalah apa yang ia kerjakan hari ini harus  lebih baik dari hari kemarin, begitu juga sebaliknya. Dekade saat ini  bangsa kita dirundung yang namanya  bencana yang datang silih berganti, belum lagi musim pandemi yang tak kunjung pergi. Entah sampai kapan kita menanti dan menikmati musim pandemi. Semoga pandemi segera pergi dan harapan baru segera kita nikmati menjemput ridlo Ilahi robbi.  Sebagai masyarakat yang agamis dengan melihat situasi dan kondisi saat ini harus punya ghirrah untuk mendekatkan diri kepada Ilahi robbi. Tentunya kita sadar bahwa hanya kepadaNya kita memohon dan meminta disertai dengan ikhtiar. Dan Allah SWT tak akan merub...

Salam 3B

  Oleh : Imam Agus Taufiq  Sore kemarin habis salat Asar sambil leyeh-leyeh dan menikmati secangkir kopi, tiba-tiba ada pesan masuk di gadget. Tanpa basa-basi saya langsung menuju gadget yang ada di meja televisi, mata melotot menatap gadget sembari membuka pesan masuk, kondisi badan yang lelah seketika itu menjadi fit.Tak saya sangka dan kira, ternyata pesan itu dari sahabat-sahabat IPNU yang sengaja ingin silaturrahim,  saya pun mengiyakan sembari berkata pintu terbuka lebar untuk sahabat-sahabat IPNU.  Sepuluh menit kemudian datanglah sahabat-sahabat IPNU parkir di depan rumah. Saat itu juga saya mempersilahkan masuk dan mereka pun masuk dengan mengucapkan salam, seraya saya jawab salam sambil mempersilahkan duduk.  Mulailah obrolan demi obrolan antara saya dengan mereka terasa gayeng sambil menikmati camilan ala kadarnya. Nampaknya obrolan demi obrolan antara saya dan mereka mulai mencair. Sharing pengalaman kepada mereka  menjadikan teringat masa lalu ...