Langsung ke konten utama

Postingan

Mengenang Sosok Munir

Oleh:  Imam Agus Taufiq Pagi itu sekitar jam 4 saya sempat sok melihat status teman yang mengabarkan bahwa Munir meninggal. Tanpa basa-basi saya langsung menelpon,  untuk memastikan apakah benar saudara Munir meninggal. Dengan lantang, teman saya mengatakan bahwa saudara Munir benar-benar meninggal. Ketepatan teman saya ini rumahnya tak jauh dari rumah almarhum Munir.  Setelah mendapatkan kabar valid sahabat Munir meninggal, saya langsung mengeshare lewat Wa group pasca dengan kalimat istirja' bahwa sahabat atas nama Muhammad Khoirul Munir meninggal dunia. Anggota Wa group sempat tak percaya mengenai berita itu, bahkan mereka mengira berita yang saya kabarkan cuma celeteh humor saja. Tapi ada yang merespon dan  bertanya dik Munir sakit apa, atau kecelakaan atau gimana?. Mengenai sakit apa atau kecelakaan yang jelas bagi saya bahwa berita itu benar mengabarkan bahwa saudara Munir meninggal. Dan saya tak mau berlarut-berlarut dalam masalah meninggalnya kenapa, mengapa ...

Empat Golongan Manusia

 Oleh :  Imam Agus Taufiq Salah satu rukun iman yang harus kita pegang erat adalah iman kepada takdir Allah swt. Karena semua hal yang ada kaitan erat dengan nasib manusia seperti hidup, mati, riski, senang, susah ada digenggaman Allah swt. Ketika manusia masih berupa janin yang ada dalam rahim ibu, Allah swt menitipkan takdir baginya supaya bersungguh-sungguh menjalankan amal saleh dan kebajikan. Manusia disuruh untuk ihtiyar (berusaha) dan Allah swt yang menentukan takdirnya. Manusia harus tahu bahkan mengerti, bahwa manusia oleh Allah sudah diberikan perangkat lengkap untuk berihtiyar, seperti kepala, mata, hidung, tangan, kaki, otak, dan lain sebagainya. Semua perangkat itu digunakan untuk taat perintah Allah swt dan menjauhi larangan-Nya. Dalam kitab Al-Majalis as-Saniyah karangan syeikh Ahmad Ibnu Syeikh Hijazi al-Fasyani diterangkan tentang empat golongan manusia. المكلفون على اربعة اقسام القسم الاول قوم خلقهم الله تعالى لخدمته ولجنته وهم الانبياء والاولياء والمؤمنون وا...

Belajar Sepanjang Jalan

 Imam Agus Taufiq "Sukses dalam studi belum menjamin sukses dalam hidup. Pokoknya di luar buku, di luar bangku, di luar kampus, masih ada kampus yang lebih besar, yakni kampus Allah swt. Kita harus banyak belajar." (Gus Miek) Banyak orang beranggapan bahwa singgasana kebahagiaan dan kesuksesan hanya sebatas ditempuh di pendidikan formal. Mulai dari jenjang dasar, menengah, atas dan lanjut perguruan tinggi. Ada juga yang beranggapan bahwa kesuksesan ada pada genggaman ketika kita mampu menjuarai mata pelajaran tertentu. Anggapan itu sah-sah saja dan tak berdosa. Tetapi hal ini bisa menjadi kesalahan apabila kita memberhalakan anggapan tersebut menjadi sebuah keyakinan. Faktamya, tak ada jaminan bahwa juara kelas, juara kampus, juara olimpiade dan lain-lain bisa sukses mengamalkan kemampuannya sekaligus memuluskan langkahnya menuju titik kulminasi kebahagiaan. Ada orang tua yang sejak jauh masa sudah menyiapkan atau mengarahkan anaknya untuk menjadi ini atau itu, dengan langkah...

Belajar Menulis adalah Investasi

 Imam Agus Taufiq "From saving cames having. From small begining great thing."  --Gyan C. Fain Kita sering mendengar untuk sekolah memerlukan biaya besar, apalagi sampai dibangku perguruan tingi S-1, S-2, S-3. Namun tak sedikit dari lulusan perguruan tinggi yang bergelar sarjana susah mencari pekerjaan. Kadang bekerja tak sesuai dengan pendidikan kita. Masarakat berpandangan bahwa sekolah dengan pendidikan tinggi justru menambah banyak pengangguran. Doktrin ini tak selalu benar, karena menurut saya sekolah tinggi sebenarnya kita telah melakukan investasi, mungkin suatu saat ilmu yang kita kuasai akan berguna karena kehidupan tidak melulu statis akan tetapi terus berubah.  Contoh sepele ketika kita membeli buku dan membacanya menurut saya sudah investasi. Kita menyerap buku yang kita baca. Apalagi di zaman keterbukaan ini kita dengan mudah mengakses informasi dan segala sumber pengetahuan.  Bagi orang berpendidikan menulis merupakan pekerjaan sehari-hari. Para siswa m...

Naliko Mambu Kiai

 Dening :  Imam Agus Taufiq Ora sengojo rikolo awor ibuk-ibuk guyonan  gayeng ngalor-ngidul dilalah obrol babakan kiai. Kerono aku dipekso jelasno opo sing dikarepne, akire yo cancot taliwondo tak jelaske opo sak benere sing tak weruhi. Wes lumrah opo sak benere, yen ibuk-ibu ngumpul mesti ujung-ujunge rasan-rasan sing dadine maido ora kasanah dadine nimbulne fitnah. Awal mulane ngomong-ngomong kiai si A ngene, si B ngene akire banding-bandingke yo mesti kalah persis koyo lagune Farel Prayoga.  Langsung wae tak jelaske, yen kiai iku maceme ono telu. Pertama kiai sembur, kedua kiai catur, lan sing terakir kiai tutur. Maksute kiai sembur iku biasane penggaweane nyembar-nyembure kancane. Kiai catur ngandung maksud kiai sing kiprahe nek dunia politik. Yen kiai tutur ngandung maksud aweh pitutur minongko ajak tumindak bagus amar makruf nahi munkar.  Sak wuse paham kaitan macame kiai kanti mantuk-mantuk lan ngucap oh iyo... bakno ngono sak temene, ibuk-ibuk sadar diri...

Sharing penulisan Kutbah NU Online

  Oleh :  Imam Agus Taufiq Alhamdulillah malam itu tepatnya 30 Maret 2022   berkesempatan untuk mengikuti sharing seasion penulisan kutbah Jumat NU Online. Rasanya moment ini sangat special karena dapat bersua dengan para senior bahkan bisa berkenalan dengan orang-orang hebat. Tiga puluh menit sebelum acara inti dimulai kami saling sapa dan berkenalan, bahkan lagi asik-asiknya   canda tawa waktu bersua harus diakiri. Tak lama kemudian acara inti segera dimulai, acara dipandu langsung oleh sahabat Kendy Setiawan   selaku tim  redaksi NU Online sambil membacakan tata tertib sesion sharing     penulisan kutbah Jumat NU Online. Dirasa cukup untuk pembacaan tata tertib, maka moderator langsung melanjutkan sesi materi yang disampaikan oleh Dr. Nur Rahmat, M.Ag selaku tim ASNUTER PWNU Jawa timur.   Dengan bahasa yang kas dan nyentrik, ustadz Nur Rahmat pertama menyampaikan tentang bekal dan modal bagi penulis kutbah ASWAJA. Ada lima poin penti...

Manajemen Waktu

  Oleh : Imam Agus Taufiq Banyak yang sering berkata, "Aku nggak ada waktu !!!", seakan-akan mereka di dalam sebuah kesibukan yang sangat bermanfaat…, akan tetapi kenyataannya ternyata masih banyak waktu kosong mereka...‎ Di lain pihak…banyak pula yang ingin "Membunuh waktu…" karena waktu mereka yang sangat terbuang-buang.., mereka bingung mau diapain waktu tersebut..??!!‎ Waktu itu ibarat pedang bermata ganda, bisa mendatangkan kebahagiaanmu dan bisa pula menjadi bumerang yang mendatangkan kesengsaraanmu.‎ Al-Imam Asy-Syafi'i rahimahullah menyebutkan sebuah perkataan : الْوَقْتُ سَيْفٌ فَإِنْ لَمْ تَقْطَعْهُ قَطَعَكَ، وَنَفْسُكَ إِنْ أَشْغَلْتَهَا بِالْحَقِّ وَإِلاَّ اشْتَغَلَتْكَ بِالْبَاطِلِ "Waktu ibarat pedang, jika engkau tidak menebasnya maka ialah yang akan menebasmu. Dan jiwamu jika tidak kau sibukkan di dalam kebenaran maka ia akan menyibukkanmu dalam kebatilan" (Dinukil oleh Al-Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam kitabnya Al-Jawaab Al-Kaafi...