Langsung ke konten utama

Postingan

Kesaktian Pancasila

 Oleh : Imam Agus Taufiq Hari ini Kamis tanggal 01 Oktober 2020 kita memperingati hari kesaktian Pancasila. Peringatan ini dilakukan secara rutin tidak lain agar masyarakat Indonesia mengetahui sejarah bangsa yang berharga. Di  Indonesia ada dua peringatan terkait Pancasila, yakni 1 Juni sebagai hari lahirnya Pancasila dan 1 Oktober ditetapkan sebagai hari kesaktian Pancasila. Namun, mengapa Pancasila sakti? Menurut saya, sebab beberapa kali perjuangan bangsa Indonesia diganggu oleh golongan yang anti terhadap prinsip-prinsip falsafah Pancasila, tetapi usaha yang gigih untuk mempertahankan Pancasila hingga akhirnya diakui sebagai falsafah hidup bangsa Indonesia tidak sia-sia. Dan ideologi Pancasila kembali dikuatkan pemerintah pasca insiden G 30 S.    Dan ternyata Pancasila dan Islam bukanlah dua hal yang harus dipilih salah satu sambil membuang yang lain.  Keduanya dapat berjalan dan saling mengukuhkan,  tidak bertentangan, dan tidak boleh dipertentan...

Sikap NU Terhadap Propaganda PKI Dewasa Ini

 Oleh : Imam Agus Taufiq           Hari ini tepatnya 30 September 2020 kita bangsa Indonesia memperingati G 30 S PKI. Peristiwa Gerakan 30 S PKI merupakan peristiwa tragis yang tidak pernah kita lupakan. Peristiwa itu terus diingat, karena peristiwa itu sangat mengerikan, menyakitkan. Sehingga selalu dikenang agar tidak berulang. Berbagai buku catatan dikeluarakan, baik versi pemerintah maupun TNI. Ada pula versi perguruan tinggi baik domestik maupun dari barat yang berpretensi netral walupun sering kali terjebak oleh sudut pandang dan memihak satu sisi. Selain itu muncul berbagai buku versi PKI yang ditulis dalam bentuk memori atau biografi yang semuanya membela diri, terutama tentang ketidak terlibatan mereka dalam peristiwa tragis pada tahun 1965 tersebut.         Situasi tersebut telah membuat masyarakat awam menjadi bingung terutama dari kalangan generasi muda yang tidak ikut menyaksikan dan mengalami peristiwa G 30 S PKI....

Usaha Berucap Baik Berbuat Baik

Oleh :  Agus Taufiq Melihat realitas moral manusia sekarang ini, kususnya para remaja dan anak muda saya sangat prihatin bahkan berani mengambil keputusan bahwa, kerusakan moral yang terjadi telah sampai pada tingkat yang bernama Fitnah Duhaima' yang berarti fitnah dimana harta, darah, dan kemaluan bebas diperjual belikan telah terjadi. Atau bisa dikatakan kita memasuki zaman al-Harj yakni, zaman bercampurnya kebaikan dan keburukan.  Bagi manusia yang beriman, hal ini merupakan suatu masalah besar yang harus diselesaikan dan menguji kita pada kekuatan dan ketangguhan iman.   Pada masa seperti ini, menjadi orang baik semakin sulit. Seperti apa yang ada pada hadits Rasulullah SAW yang artinya :"Akan datang kepada manusia sesuatu masa saat ada orang di antara mereka yang teguh memegang agamnya, maka ia seperti menggenggam bara. (HR. Turmudzi no 2361). Seperti halnya segala penyakit pasti ada obatnya, maka demikian pula halnya dengan masalah yang berupa ujian-ujian berag...

FORSIS Tulungagung Sambangi Gunung Budek

  Oleh : Imam Agus Taufiq  Ahad 20 September 2020 tepatnya pukul 13.00 pengurus Dewan Koordinasi Cabang Forum Silaturrahmi Santri (DKC FORSIS) Tulungagung sambangi gunung Budek. Alasan mengapa DKC FORSIS Tulungagung  memilih lokasi di gunung Budek, tak lain adalah untuk mengenalkan destinasi wisata yang ada di bumi Tulungagung tercinta ini. Selain itu, pemilihan destinasi wisata gunung Budek dirasa sangat cocok, nyaman dengan pemandangan terlihat dari atas terbentang sawah dari sisi barat dan selatan gunung Budek dan pemukiman warga dari sisi utara gunung Budek yang sangat indah dengan angin sepoi-sepoi serasa AC alami. Tak kalah pentingnya dalam sambang gunung Budek ini juga ada acara ngopi bareng dan jagongan gayeng untuk kordinasi acara ngaji kebangsaan (bedah buku) yang akan diselenggarakan di Ponpes MIA Moyoketen Tulungagung pada tanggal 1 Nopember 2020. Ngopi bareng dan jagongan gayeng berjalan mengalir, hidup mengenai teknis persiapan sampai detail pelaksanaan pada...

Membersihkan Hati yang Kotor

  Oleh : Imam Agus Taufiq Manusia tidak lepas dari yang namanya penyakit, baik penyakit lahir atau penyakit batin. Penyakit lahir biasanya orang lain tidak tahu menahu kalau tidak dikasih kabar atau dengar dari tetangga bahkan tahu  sekilas bagai hembusan angin yang lewat dengan sekejap. Berbeda dengan penyakit batin, orang lain justru lebih tahu lebih dulu dari pada yang bersangkutan. Penyakit batin itu macamnya banyak sekali, mulai dari iri, dengki, hasud, pendemdam, dan lain sebagainya. Penyakit batin atau hati yang kotor harus segera disucikan atau dengan kata lain segera diobati. Pada dasarnya jika seseorang telah mengetahui hal-hal yang menjadi penyebab penyakit hati, mau tidak mau harus menghindari hal-hal tersebut agar hati menjadi suci atau sehat.  Sebenarnya mengenai penyakit batin atau penyakit hati sudah ada zaman dulu, yaitu pada nabi Adam AS. Dimana anaknya nabi Adam AS yang bernama Habil iri terhadap Qabil. Alhasil dari kejadian itu salah satu anak nabi Nab...

Menghindari Pola Pikir Salah Dalam Membimbing Anak

  Oleh : Imam Agus Taufiq “ Terkadang orang tua tidak menyadari kekeliruannya, namun sering melakukannya” (Ir. Hendro, MM) Seorang ibu yang bernama bu Tejo menjawab dengan nada agak malu dan gengsi pertanyaan dari temenya yang bernama yu Ning mengenai anaknya yang pendiam. Wah,,, si Adi memang anaknya seperti itu, seolah seperti anak bisu sehingga ia susah bergaul. Begitu pula kalau berbicara dengan temanya. Lalu teman bu Tejo yang bernama yu Ning membalas. “Apalagi anak saya bu Tejo. Sudah bodoh, malas lagi. Sekiranya masih banyak pembicaraan orang tua mengenai anaknya. Macam-macam kata yang dilontarkan orang tua kepada anaknya yang bersifat gengsi, malu, takut, atau julukan buruk (cap) untuk anak supaya kehormatan, gengsi, dan harga diri orang tua tetap terjaga. Itulah kiranya salah satu cara yang ingin mencari status baik dimata teman-temannya. Dan yang jelas untuk menutupi kemaluannya. Sebenarnya semua bersumber pada satu hal, yaitu rasa takut dan malu. Namun rasa tak...

Jejaring Santri Tegalsari Ponorogo di Tulungagung

Oleh: Imam Agus Taufiq Jejaring Pesantren Tegalsari Ponorogo yang ada di Tulungagung dapat diungkap melalui salah satu ipar Kyai Muhammad Ageng Besari, yaitu Raden Witono/ Syekh Hasan Ghozali yang berkiprah di Tulungagung. Hasil pernikahannya dengan Nyai Jarakan, Syekh Hasan Ghozali memiliki putra-putri antara lain  Kyai Imam Jauhari Mahmud (Notorejo Gondang Tulungagung), Kyai Muntaha (Mbah Muntaha Jarakan Gondang Tulungagung), Kyai Gembrang Serang ( Kyai Ageng Nur Rahmatullah), dan Nyai Robi'ah. Nama lain Syekh Hasan Ghozali Kalangbret, Tulungagung adalah Kyai Ageng Witono atau Kyai Naib Witono atau Kyai Mangun Witono. Mengapa disebut Mbah Witono karena Syekh Hasan Ghozali merupakan sosok yang pertama kali mengadakan kajian-kajian Islam (wiwitane ono: Jawa) di daerah Kalangbret Tulungagung. Syekh Hasan Ghozali sering bersilaturrahmi dengan keluarga-keluarga dari Raden Setro Menggolo ( Syekh Abu Naim Fathullahyang makamnya terletak di barat makam Sentono Lodoyo Blitar) dan Raden Ra...