Langsung ke konten utama

Kesaktian Pancasila

 Oleh : Imam Agus Taufiq



Hari ini Kamis tanggal 01 Oktober 2020 kita memperingati hari kesaktian Pancasila. Peringatan ini dilakukan secara rutin tidak lain agar masyarakat Indonesia mengetahui sejarah bangsa yang berharga. Di  Indonesia ada dua peringatan terkait Pancasila, yakni 1 Juni sebagai hari lahirnya Pancasila dan 1 Oktober ditetapkan sebagai hari kesaktian Pancasila. Namun, mengapa Pancasila sakti? Menurut saya, sebab beberapa kali perjuangan bangsa Indonesia diganggu oleh golongan yang anti terhadap prinsip-prinsip falsafah Pancasila, tetapi usaha yang gigih untuk mempertahankan Pancasila hingga akhirnya diakui sebagai falsafah hidup bangsa Indonesia tidak sia-sia. Dan ideologi Pancasila kembali dikuatkan pemerintah pasca insiden G 30 S.  

 Dan ternyata Pancasila dan Islam bukanlah dua hal yang harus dipilih salah satu sambil membuang yang lain.  Keduanya dapat berjalan dan saling mengukuhkan,  tidak bertentangan, dan tidak boleh dipertentangkan. Keduanya tidak saling mengalahkan  bahkan saling menunjang, saling melengkapi dan harus sama - sama dilaksanakan dan diamalkan.  Sebab pancasila baik makna dan tafsirannya tidak bertentangan dengan Islam,  bahkan relevan dengan ajaran - ajaran Islam. 

Pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa. Sila Ketuhanan yang Maha Esa pada prinsipnya menegaskan bahwa,  bangsa Indonesia dan warganya mengakui adanya Tuhan. Fakta sejarah mencatat bahwa praktik keagamaan begitu kuat,  mengakar,  dan mewarnai perkembangan kehidupan bangsa  Indonesia sejak zaman purbakala hingga kemerdekaan. Praktik sila ini secara konstitusional, bahwa beragama memperoleh jaminan kebebasan.  Pada pasal 29 ayat 2 UUD 1945 berbunyi bahwa negara memberikan kebebasan kepada seluruh warga negara untuk memeluk agama dan mengamalkannya menurut agama masing -masing. Prinsip ini sesuai dengan Firman Allah SWT: لكم دينكم  ولي دين  "Untukmu agamamu dan untukku agamaku. " (Al-Kafirun: 6)

Kedua, Kemanusian yang adil dan beradab. Kepercayaan akan ketuhanan yang Maha Esa meniscayakan manusia sebagai mahluk sosial.  Sebab agama tidak hanya mengatur tata hubungan antara manusia sebagai makhluk dengan Tuhannya,  namun juga tata hubungan antar sesama manusia. Perpaduan dua peran ini dalam Islam biasa disebut habl minallah wa habl min al-nas. 

Ketiga, Persatuan Indonesia. Sila ini pada prinsipnya menyatakan bahwa bangsa Indonesia terdiri dari beragam suku,  agama,  budaya,  dan wilayah menyatukan diri dalam ikatan kebangsaan Indonesia dan memiliki kehendak,  cita-cita, tekad yang kuat untuk hidup bersama di tanah air Indonesia.  Dan jargon NKRI harga mati sudah selayaknya dan wajib bagi kita bangsa Indonesia. 

Keempat, Kerakyatan yang dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan / Perwakilan. Sila ini, kekuasaan tertinggi berada pada rakyat tercermin dalam sistem demokrasi.  Namun demokrasi disini dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dan diputuskan berdasrkan musyawarah kekeluargaan. Demokrasi Indonesia memiliki corak khasnya sendiri, tidak seperti demokrasi pada umumnya yang hanya mencari suara terbanyak saja, sehingga melahirkan kebebasan tanpa batas. Demokarsi disini diputuskan dalam musyawarah, yakni upaya bersama untuk memecahkan persoalan dengan saling dialog,  memberi pengertian, beradu argumen kemudian mengambil keputusan bersama dengan mufakat dalam suasana kekeluargaan. وشاورهم في الامر " Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam  urusan itu. "(Ali Imran: 159).

Kelima, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Sila terakhir ini maknanya sangat luas.  Keadilan sosial berarti tidak ada diskriminasi dalam segala bidang yang menyangkut seluruh rakyat Indonesia, baik dalam bidang hukum, politik, ekonomi, dan lain - lainnya. Semangat keadilan sesuai dengat spirit pemerataan ekonomi dalam al-Qur'an : كي لا يكون دولة بين الأغنياء منكم "Supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kalian. "(Al-Hasyr: 7).

Dasar negara berupa pancasila ternyata sesuai dengan agama Islam,  bahkan seperti sisi mata uang yang saling menunjang dan sejalan. Oleh karena itu sebagai warga negara Indonesia tidak usah ragu dan takut berdosa untuk menerima Pancasila sebagai dasar negara.  

Walhasil, NKRI adalah negara yang sah dan harus dibela dalam pandangan agama. Pancasila satu -satunya dasar negara yang bisa memayungi semua golongan dan memperkokoh persatuannya sehingga menerima dan melaksanakan Pancasila adalah bagian dalam mengamalkan ajaran Islam. Negara Pancasila sama sekali tidak menghalangi umat Islam untuk melaksanakan dan memperjuangkan tegaknya syariat Islam. Tetapi perjuangan menegakkan ajaran agama di dalam negara Pancasila harus ditata dengan prinsip kearifan dan kebijaksanaan. Tidak boleh memperhadapkan satu agama dengan agama lain, dan harus menjadikan agama sebagai sumber inspirasi yang bisa menyumbangkan tata nilai yang bisa diolah secara elektis di lembaga demokrasi yang disediakan oleh ideologi dan konsultasi.


Kalidawir,  Kamis Kliwon 01 Oktober 2020.


Komentar

  1. Trimakasih pak. Penjelasan tentang lima dasar.

    BalasHapus
  2. Mantab sekali Bapak Agus. Tambah ilmu. :)

    BalasHapus
  3. Jangan sampai ada perpecahan tetap satukan tekat... karena NKRI harga mati... jangan sampai golongan-golongan lain mengobrak abrik negeri ini... tulisan yang mantab

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jejaring Santri Tegalsari Ponorogo di Tulungagung

Oleh: Imam Agus Taufiq Jejaring Pesantren Tegalsari Ponorogo yang ada di Tulungagung dapat diungkap melalui salah satu ipar Kyai Muhammad Ageng Besari, yaitu Raden Witono/ Syekh Hasan Ghozali yang berkiprah di Tulungagung. Hasil pernikahannya dengan Nyai Jarakan, Syekh Hasan Ghozali memiliki putra-putri antara lain  Kyai Imam Jauhari Mahmud (Notorejo Gondang Tulungagung), Kyai Muntaha (Mbah Muntaha Jarakan Gondang Tulungagung), Kyai Gembrang Serang ( Kyai Ageng Nur Rahmatullah), dan Nyai Robi'ah. Nama lain Syekh Hasan Ghozali Kalangbret, Tulungagung adalah Kyai Ageng Witono atau Kyai Naib Witono atau Kyai Mangun Witono. Mengapa disebut Mbah Witono karena Syekh Hasan Ghozali merupakan sosok yang pertama kali mengadakan kajian-kajian Islam (wiwitane ono: Jawa) di daerah Kalangbret Tulungagung. Syekh Hasan Ghozali sering bersilaturrahmi dengan keluarga-keluarga dari Raden Setro Menggolo ( Syekh Abu Naim Fathullahyang makamnya terletak di barat makam Sentono Lodoyo Blitar) dan Raden Ra...

Ketentraman Hati

 Oleh : Imam Agus Taufiq Di tahun 2021 tentunya setiap orang mempunyai harapan baru. Saya yakin bahwa dengan bergulirnya  tahun baru seiring perjalanan ruang dan waktu pasti mereka ingin menjadikan apa yang mereka kerjakan hari ini harus lebih baik dari hari kemarin. Mengingat bahwa termasuk tanda-tanda orang beruntung adalah apa yang ia kerjakan hari ini harus  lebih baik dari hari kemarin, begitu juga sebaliknya. Dekade saat ini  bangsa kita dirundung yang namanya  bencana yang datang silih berganti, belum lagi musim pandemi yang tak kunjung pergi. Entah sampai kapan kita menanti dan menikmati musim pandemi. Semoga pandemi segera pergi dan harapan baru segera kita nikmati menjemput ridlo Ilahi robbi.  Sebagai masyarakat yang agamis dengan melihat situasi dan kondisi saat ini harus punya ghirrah untuk mendekatkan diri kepada Ilahi robbi. Tentunya kita sadar bahwa hanya kepadaNya kita memohon dan meminta disertai dengan ikhtiar. Dan Allah SWT tak akan merub...

Belajar dari Penulis

 Imam Agus Taufiq  Ngainun Naim adalah seorang doktor bidang Islamic Studies lulusan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Akademisi dan pegiat literasi ini lahir di Tulungagung pada 19 Juli 1975, merupakan sosok figur yang rajin membaca dan menulis. Sosok yang sekarang menjabat kepala LP2M di kampus dakwah dan peradaban IAIN Tulungagung, baginya belajar--menggali ilmu lewat membaca dan menulis adalah bagian jalan hidupnya. Sikap aktif membaca dan menulis kini terus beliau tularkan dari generasi ke generasi. Salah satunya lewat WA Group sahabat pena kita Tulungagung. Sikap aktif menulis juga beliau tuangkan ke dalam buku. Sudah banyak buku yang ditulisnya. Buku beliau yang sangat populer dan digandrungi adalah "The Power of Reading dan The Power of Writing". Dan buku yang baru terbit adalah "Menulis Itu Mudah 40 Jurus Jitu Mewujudkan Karya yang  tophit dan cetak ulang beberapa kali. Buku karya beliau banyak dijadikan bahan referensi dan rujukan mereka yang ...