Langsung ke konten utama

Di Dunia Hanya Tiga Hari

 Imam Agus Taufiq





Ada berapa hari dalam seminggu? Oh, ternyata bukan ada tujuh hari : Ahad, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, dan Sabtu. Namun, pertanyaan ini merupakan perenungan tentang berapa banyak yang sudah kita lakukan di dunia ini. Dalam hari-hari yang kita lewati, berapa banyak amal kita laksanakan. Pertanyaan ini juga berkaitan dengan berapa banyak detik, menit, jam, dan hari yang kita lewati begitu saja. Pertanyaan ini berkaitan dengan hari yang amat pendek bahkan untuk melakukan kebajikan tak kenal hari berikutnya. 

Pertanyaan di atas mengarah pada perkataan seorang ulama besar, yaitu Hasan al-Bashri. Menurut Hasan al-Bashri, dunia ini hanya tiga hari : kemarin, hari ini, dan besok. Hari kemarin sudah berlalu bersama apa yang ada di dalamnya. Sedangkan hari esok semoga anda menemuinya. Dan sekarang hari ini adalah milikmu, maka beramallah di dalamnya

Subhanallah..., rupanya cukup singkat hari di dunia ini. Hanya ada tiga hari saja. Apabila mengacu pada hari yang jumlahnya tujuh, kadang kita mendengar seseorang sering mengatakan singkat banget ya hari ini, tempo hari, harinya Kamis , sekarang sudah Kamis lagi. Zaman memang sudah mau kiamat. Begitulah kata-kata yang sering terdengar atau kadang kita juga berkata seperti itu. Dunia memang benar-benar singkat. Siapa saja yang bersantai-santai pastilah tergilas zaman. Mereka akan tertinggal jauh dan tak mendapatkan apa-apa. Barang siapa tak segera mungkin beramal kebajikan, otomatis dia akan kedahuluan orang lain. Ketika orang lain bisa berpepatah "menyelam sambil minum air" dia akan terdiam saja karena belum berbuat apa-apa. Ketika orang bisa menyelesaikan membaca/menghafal satu juz dalam perjalanan menuju tempat kerja, dia satu huruf saja belum membaca. Atau ketika orang lain sudah menulis mampu menerbitkan buku, justru kita belum. Inilah akibatnya orang yang suka santai dan tak menyadari bahwa hari itu singkat, waktu itu singkat. Sungguh elok nan mulia perkataan Ibnu Umar "Apabila kamu berada di sore hari, maka janganlah menunggu pagi. Dan apabila kamu berada di pagi hari, janganlah menunggu sore hari. Ambillah masa sehatmu untuk masa sakitmu, dan dari masa hidupmu untuk masa meninggalmu." (H.R. al-Bukhari)

Sebenarnya apakah hikmah yang bisa  diambil dari perkataan Hasan al-Bashri dunia hanya tiga hari? Pertama, kemarin telah berlalu bersama dengan apa yang di dalamnya. Kemarin adalah hari yang telah berlalu. Hari yang tak pernah bisa kembali, bahkan akan pergi semakin menjauh. Dan kita hanya bisa mengambil pelajaran dari peristiwa kemarin. Kita tak pernah bisa menjumpainya. Namun faktanya, bahwa ada banyak orang bernostalgia dan berangan-angan peristiwa kemarin akan kembali, juga dinikmatinya. Telinga kita kadang mendengar orang berkata : "Enak ya saat masih bujang dulu, aku bahagia, ngk seperti sekarang hidupku tak karuan." Begitulah kata-kata mereka dan masih banyak kata-kata yang terdengar di telinga kita. Ternyata, banyak orang yang menyesal atas kepergian hari kemarin bersama keindahan yang terdapat padanya. Begitu lama berangan-angan sampai lupa untuk segera melangkah dan melanjutkan sebuah perjalanan untuk berbuat sesuatu yang ada manfaat baginya dan orang lain. Alih-alih membayangkan suatu yang amat jauh dan terus menjauh yaitu masa lalu. Mereka lupa akan sesuatu yang amat dekat dan semakin mendekat. Apakah sesuatu yang amat dekat dan semakin mendekat? Kematian. Kematian amatlah dekat. Dia datang secara tiba-tiba, tanpa diundang datang, dan tanpa ada pemberitahuan, juga tak bisa diwakilkan. Namun, tak banyak orang di antara kita menyadari tanda-tanda kematian dan segera bertaubat untuk memperbaiki diri sendiri. Biarlah hari kemarin berlalu bersama apa yang ada di dalamnya. Kita segera mengambil pelajaran dan segera berbuat baik untuk mempersiapkan hari esok. Karena kita sekarang ini adalah akumulasi dari apa yang telah kita lakukan di hari-hari kemarin. Dan hari esok harus betul-betul kita persiapkan dan perlu perjuangan ekstra, semangat untuk menyongsong datangnya kematian kapanpun dan di manapun saja.

Kedua, hari esok semoga anda menemuinya. Kita aamiini ucapan dan doa Hasan Bashri tersebut. Semoga kita dikaruniai umur panjang, barokah dan kemanfaatan. Esok memang penuh misteri, kita tak akan tahu seperti apa esuk itu. Bahkan kita tak akan menjumpai selamanya, sebab ajal dan kematian menghampiri kita. Kita boleh dan sah-sah saja membuat suatu perencanaan bagaimana esok, namun tetap yakin akan  Allah SWT menentukan takdir kita. Membuat perencanaan boleh saja supaya kita tak kehilangan fokus dan dapat berbuat lebih baik. 

Ketiga, hari ini adalah milikmu, maka beramallah di dalamnya. Hari ini adalah milik kita. Jam, menit, detik inilah yang kita punyai untuk bisa berbuat banyak. Tak ada guna menyesali hari kemarin, juga tak perlu menangisinya. Biarlah pergi menjauh dan kita pergi melangkah melanjutkan perjalanan, melakukan banyak amal yang bermanfaat. Ketika kita membiarkan masa lalu pergi, ada baiknya kita tidak membebani diri dengan masa depan yang penuh misteri. Agama Islam mengajarkan kita supaya tak takut dengan masa depan dan mengajari kita agar tidak dipenuhi kekhawatiran atas tidak menentunya masa depan. Masa depan harus dihadapi dengan optimis bahwa Allah bersama orang yang beriman. Allah akan menolong hambaNya yang membutuhkan pertolongan. Rasanya orang beriman tak perlu takut dan bersedih bahwa Allah masih bersamaNya. Jika mengalami kesulitan saat ini, hamba yang beriman selalu yakin dengan firmanNya bahwa : "Sesungguhnya sesudah kesulitan pasti ada kemudahan." (T.Q.S. al-Insyirah:5)

Alhasil, marilah ambil rancangan hidup kita dengan penuh optimis akan pertolongan dari Allah dan berlomba-lomba dalam hal kebajikan. Teringat bahwa hidup ini hanya tiga hari, yaitu kemarin, besok, dan sekarang. Supaya hembusan nafas, kesehatan lahir batin tak sia-sia untuk menjemput dan menggapai ridloNya demi  persipan kehidupan yang kekal nan abadi di alam sana. Aamiin...


Kalidawir, 24 Februari 2021.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jejaring Santri Tegalsari Ponorogo di Tulungagung

Oleh: Imam Agus Taufiq Jejaring Pesantren Tegalsari Ponorogo yang ada di Tulungagung dapat diungkap melalui salah satu ipar Kyai Muhammad Ageng Besari, yaitu Raden Witono/ Syekh Hasan Ghozali yang berkiprah di Tulungagung. Hasil pernikahannya dengan Nyai Jarakan, Syekh Hasan Ghozali memiliki putra-putri antara lain  Kyai Imam Jauhari Mahmud (Notorejo Gondang Tulungagung), Kyai Muntaha (Mbah Muntaha Jarakan Gondang Tulungagung), Kyai Gembrang Serang ( Kyai Ageng Nur Rahmatullah), dan Nyai Robi'ah. Nama lain Syekh Hasan Ghozali Kalangbret, Tulungagung adalah Kyai Ageng Witono atau Kyai Naib Witono atau Kyai Mangun Witono. Mengapa disebut Mbah Witono karena Syekh Hasan Ghozali merupakan sosok yang pertama kali mengadakan kajian-kajian Islam (wiwitane ono: Jawa) di daerah Kalangbret Tulungagung. Syekh Hasan Ghozali sering bersilaturrahmi dengan keluarga-keluarga dari Raden Setro Menggolo ( Syekh Abu Naim Fathullahyang makamnya terletak di barat makam Sentono Lodoyo Blitar) dan Raden Ra...

Ketentraman Hati

 Oleh : Imam Agus Taufiq Di tahun 2021 tentunya setiap orang mempunyai harapan baru. Saya yakin bahwa dengan bergulirnya  tahun baru seiring perjalanan ruang dan waktu pasti mereka ingin menjadikan apa yang mereka kerjakan hari ini harus lebih baik dari hari kemarin. Mengingat bahwa termasuk tanda-tanda orang beruntung adalah apa yang ia kerjakan hari ini harus  lebih baik dari hari kemarin, begitu juga sebaliknya. Dekade saat ini  bangsa kita dirundung yang namanya  bencana yang datang silih berganti, belum lagi musim pandemi yang tak kunjung pergi. Entah sampai kapan kita menanti dan menikmati musim pandemi. Semoga pandemi segera pergi dan harapan baru segera kita nikmati menjemput ridlo Ilahi robbi.  Sebagai masyarakat yang agamis dengan melihat situasi dan kondisi saat ini harus punya ghirrah untuk mendekatkan diri kepada Ilahi robbi. Tentunya kita sadar bahwa hanya kepadaNya kita memohon dan meminta disertai dengan ikhtiar. Dan Allah SWT tak akan merub...

Belajar dari Penulis

 Imam Agus Taufiq  Ngainun Naim adalah seorang doktor bidang Islamic Studies lulusan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Akademisi dan pegiat literasi ini lahir di Tulungagung pada 19 Juli 1975, merupakan sosok figur yang rajin membaca dan menulis. Sosok yang sekarang menjabat kepala LP2M di kampus dakwah dan peradaban IAIN Tulungagung, baginya belajar--menggali ilmu lewat membaca dan menulis adalah bagian jalan hidupnya. Sikap aktif membaca dan menulis kini terus beliau tularkan dari generasi ke generasi. Salah satunya lewat WA Group sahabat pena kita Tulungagung. Sikap aktif menulis juga beliau tuangkan ke dalam buku. Sudah banyak buku yang ditulisnya. Buku beliau yang sangat populer dan digandrungi adalah "The Power of Reading dan The Power of Writing". Dan buku yang baru terbit adalah "Menulis Itu Mudah 40 Jurus Jitu Mewujudkan Karya yang  tophit dan cetak ulang beberapa kali. Buku karya beliau banyak dijadikan bahan referensi dan rujukan mereka yang ...