Langsung ke konten utama

Komitmen

 Imam Agus Taufiq 


"Aspek terberat dalam menulis adalah komitmen. Banyak yang bersemangat menulis tetapi hanya sesaat. Setelah itu melemah lalu suatu saat semangat lagi. Cara terbaik merawat komitmen adalah dengan memaksa diri. Awalnya berat tetapi lama-lama ya biasa saja"

--Prof. Ngainun Naim


Ketika memiliki impian jadi penulis maka harus dijalani dengan serius. Keseriusan dalam menulis akan menjadi sebuah komitmen. Komitmen harus dibangun guna mencapai apa yang dicita-citakan. Komien sendiri dalam KBBI adalah ...Ada 9 komitmen

Katanya ingin jadi penulis? Masih ingatkah jargon Penulis itu menulis sementara pemimpi bermimpi menulis. Ada satu ungkapan legendaris dari Pram, bahwa menulis adalah sebuah keberanian. Ternyata, menjadi penulis itu juga kudu berani. Kenapa begitu, karena konon separuh dunia adalah milik orang-orang yang pemberani. Penyair Virgil dari Romawi kuno juga pernah berkata bahwa keberuntungan menyukai mereka yang berani. Dalam hal apa saja seorang calon penulis harus berani? 

Pertama, berani Memulai Menulis. Mulai menulis adalah langkah paling awal untuk jadi penulis. Hanya yang menulislah yang akan menjadi penulis. Berapa banyak dari kita yang ingin jadi penulis buku kayak Dewi Lestari, Andrea Hirata, dan Tere Liye tapi malas banget kalau disuruh nulis? Padahal, perjalanan seribu mil dimulai dari langkah pertama. Begitu juga, sebuah buku dimulai dengan menuliskan kata dan kalimat pertama. Jika kita tidak pernah mulai menulis, kapan tulisan kita akan jadi? Ini ibarat mencintai tapi hanya di bibir saja. Tidak ada tindakan. Cinta hanya di bibir saja. Padahal, dibutuhkan sebuah tindakan untuk bisa mewujudkan impian. Jika kamu ingin jadi penulis, maka kamu harus memulainya dengan menulis.

“Menulis itu menulis itu menulis itu menulis itu menulis itu menulis itu menulis itu menulis.” (Gertrude Stein)

Jika kau sudah memantapkan impianmu untuk jadi penulis (atau setidaknya ingin menulis) maka mulailah menulis sekarang juga. Waktu terbaik untuk memulai meraih impian menjadi penulis adalah sekarang juga, sesegera mungkin.

“Engkau tidak akan pernah menang jika tak pernah memulai.” (Helen Rowland)

Mulai saja dulu. Orang bilang, dengan berani memulai ibaratnya kita telah menyelesaikan separuh pekerjaan. Goethe pernah berkata bahwa ada keajaiban dalam tindakan memulai. Dengan memulai, paling tidak kita masih punya kesempatan untuk berhasil.

Kedua, Berani Banyak Membaca.

“Sungguh mengerikan jika ada penulis yang tidak mau membaca. Penulis yang tidak mau membaca lebih baik berhenti jadi penulis.” (SGA)

Seno Gumira Ajidarma pernah berkata bahwa tidak ada ceritanya penulis tapi tidak suka membaca. Faktanya, latihan menulis yang paling awal adalah dengan banyak membaca. Para penulis besar dunia mengawali dunia menulis dengan banyak membaca. JK Rowling, Agatha Christie, Pramoedya A. Toer, Stephen King dan penulis-penulis besar lain banyak membaca buku di masa muda mereka. Membaca bukulah yg kemudian mendorong mereka untuk juga menulis buku. Begitulah, buku yg baik akan menginspirasi pembacanya untuk menulis. Rata-rata penulis hebat dulunya adalah para pembaca buku yg lahap. Karena itu, seorang penulis harus selalu mempertahankan hasrat membacanya. Tentang membaca ini, Seno Gumira Ajidarma menambahkan:

“Buku teknik menulis ada banyak, tetapi tips terbaik menulis adalah membaca.”

Pada dasarnya, menulis itu satu paket dengan membaca. Siapa yg mau jadi penulis, maka dia tidak boleh malas membaca. Membaca buku tidak sekadar untuk mengisi tabung pikiran kita dengan materi tulisan, tapi juga untuk belajar tentang menulis itu sendiri. Jadi, jika kamu berani untuk menjadi penulis, maka kamu juga tidak boleh takut baca banyak buku. Mosok baca buku aja nggak berani? Agatha Christie tergerak menulis seri Hercule Poirot karena sejak kecil dia banyak membaca seri Sherlock Holmes karya Sir Arthur Conan Doyle. Karl May bahkan mampu menuliskan seri Winnetou yg legendaris itu hanya dari membaca buku. Dia sendiri belum pernah pergi ke Amerika saat menulisnya. Luar biasa manfaat membaca banyak buku bagi penulis, maka membacalah karena para penulis yang baik biasanya adalah pembaca yang baik pula.

“Saat kita banyak menulis, maka ada banyak proses belajar. Begitu juga dengan banyak membaca, kita sejatinya sedang belajar menulis.” (SGA)

Ketiga, Berani Memandang dengan Sudut Pandang yg Baru atau Berbeda. Seorang penulis itu unik, dia melihat apa yg tidak dilihat orang kebanyakan. Seorang sastrawan sejati harus bisa membebaskan diri dan karyanya dari kekakuan pandangan. Dunia harusnya tidak hitam-putih bagi mereka. Penulis yang baik, dia berani memandang sebuah persoalan dari berbagai sisi, juga dari berbagai sudut pandang. Ketika berhadapan dengan satu persoalan, seorang penulis tidak memandangnya secara hitam putih atau saklek benar salah. Bukankah manusia sendiri juga tidak melulu hitam – putih, baik atau buruk? Kebanyakan kita berada di antara kedua kutub ini: baik dan buruk. Bukankah karakter yang hitam-putih dalam sebuah cerita itu juga cenderung membosankan? Ini karena manusia sejatinya berada di wilayah abu-abu. Dengan cara pandang yang berbeda, penulis akan memiliki cara menulis yang juga berbeda-beda, lebih luas dan menyeluruh.

“Dengan luasnya pandangan, seorang penulis akan mampu menuliskan keindahan di tempat-tempat yang tak memiliki keindahan.” (SGA)

Jadi, kalau mau jadi penulis kece, kamu kudu berani memiliki pandangan yang luas, tidak sempit. jangan memandang hanya dari satu sisi. Sebuah pelangi hanya merah, kuning, hijau dalam pandangan orang biasa. Tetapi, bagi penulis, pelangi adalah me-ji-ku-hi-bi-ni-u.

Keempat,  Berani Sendiri. Menjadi penulis adalah keberanian menapaki jalan kesunyian, jalan yang tidak banyak orang mau dan mampu melaluinya. Menjadi penulis berarti kita harus berani menyendiri di kamar atau kos-kosan demi menyelesaikan tulisan sementara yang lain asyik hepi-hepi. Kadang, kita juga harus bangun di malam buta atau di pagi dini agar bisa menulis, sementara orang lain asyik dengan hangatnya selimut. Memang, menulis tidak melulu harus di tempat sepi, namun aktivitas menulis sejatinya adalah aktivitas yang individualistik, yang ‘sendiri’. Saat menulis, kita harus siap untuk lebih banyak berteman dengan buku-buku dan data-data ketimbang dengan orang-orang biasanya.

Penulis harus siap dengan kesunyian yg niscaya menyertai pilihannya ini. Tapi, bukan berarti menjadi penulis kemudian menjadi penyendiri. Aktivitas menulis itu mungkin sendirian, namun menjadi penulis tidak harus sendirian, tapi butuh berteman, kesunyian yang harus dialami para penulis itu mungkin akan menjadi lebih bisa tertahankan.

Kelima,  Berani Disiplin. Salah satu kunci sukses penulis besar adalah berdisiplin dalam menulis dan menyelesaikan tulisannya. Disiplin itu gampang diucapkan, namun sulit dipraktekkan. Tapi, berbagai pengalaman dan kisah membuktikan disiplin sebagai kunci kesuksesan. Jika kamu sudah meneguhkan diri untuk rutin menulis setiap hari, maka berdisiplinlah dalam menjalankannya. Jika kamu memang ingin jadi penulis yang produktif. Suka menulis saja masih kurang, kamu harus rutin menulis jika ingin jadi penulis. Latihan menulis yang terbaik adalah menulis secara rutin. Berdisiplinlah untuk rutin menulis setiap hari. Tidak perlu lama-lama, cukup setengah jam sehari asal rutin itu sudah sangat baik.

“Hanya dengan menulis setiap hari, seseorang dapat menjadi penulis. Jika tidak, ia akan tetap seorang amatir.” (Gerald Brenan)

Keenam,  Berani Menyelesaikan.

“Kemampuan untuk merampungkan menulis sebuah naskah novel adalah salah satu pengalaman paling hebat yg bisa dialami penulis.” (Karen Miller)

Seorang penulis yang baik selalu bertanggung jawab untuk menyelesaikan apa-apa yang telah ia mulai. Kebiasaan buruk penulis pemula adalah suka mem-PHP naskah. Naskah baru separo ditulis, sudah pindah ke lain naskah. Naskah pertama belum juga selesai, ia sudah menulis naskah kedua. Ada ide lagi, ia tinggalkan naskah kedua dan menulis naskah ketiga.Tanpa disadari, ia punya banyak naskah dan ide cerita yang tak terselesaikan. Dia memulai banyak tulisan, tapi tak satupun jadi.

“Penulis yang malas menyelesaikan menulis naskahnya tidak akan pernah jadi penulis.” (Karen Miller)

Memang, seringkali mengawali itu jauh lebih mudah dari pada menyelesaikan. Banyak calon penulis yang telah merasakan hal ini. Karen Miller dlm artikel kerennya “The Tyranny of the First Draft” menyinggung tentang betapa berbahayanya kebiasaan mem-PHP naskah ini. Kebiasaan mem-PHP naskah menurut Miller hanya membuang-buang waktu dan energi, karena kita menggarap sesuatu yg tidak pernah jadi.  Inilah salah satu ujian terberat bagi penulis. Bahwa mengawali itu mungkin terasa gampang, tapi merampungkannya sering kali begitu berat.

“Satu-satunya cara untuk menjadi penulis adalah menyelesaikan menulis ceritamu, mulai dari halaman satu sampai ke halaman terakhir.” (Karen Miller)

Menyelesaikan naskah pertama adalah awal dari perjalanan, awal dimulainya ceritamu sebagai seorang penulis. Teruslah menulis dan menulis.

Ketujuh,  Berani Melawan.

“Jadi penulis itu kutukan: kita melihat yg tidak dilihat oleh orang lain, kita menulis apa yg orang lain tidak berani menulisnya.” (SGA)

Lewat tulisannya, penulis melawan. Lewat tulisannya, penulis menjadi pahlawan. Terkadang, pena lebih tajam dari pedang. Sudah tidak terhitung banyaknya perlawanan, revolusi, hingga perang yang dikobarkan berkat tulisan. Ini bukti bahwa menulis itu melawan. Tentunya, yang dilawan penulis lewat tulisan adalah kesewang-wenangan, penindasan, keburukan, atau kejahatan dalam masyarakat.

“Sastra adalah huruf-huruf yang berbicara. Ia sebagai bentuk perlawanan pada penindasan.” (SGA)

Ketika perjuangan bersenjata kurang memberikan hasil yang diharapkan, para penulis melawan lewat tulisan. Lewat tulisannya, RA Kartini berani melawan pandangan kolot bahwa kaum perempuan tidak perlu mendapatkan pendidikan. Lewat tulisannya di novel ‘Uncle Tom’s Cabin’, Harriet Beecher Stowe berani melawan perbudakan di Amerika Serikat. Multatuli berani melawan kekejaman Pemerintahan Kolonial Hindia Belanda terhadap kaum pribumi lewat tulisannya, Max Havelaar. Begitulah sastrawan yang baik, dia menjadi saksi zaman dan masyarakatnya. Ketika kebenaran ditindas, dia harus jadi penyambung lidah rakyat lewat tulisan.

“Tugas seorang penulis adalah menulis dengan sebaik-baiknya kata Gabriel G. Marquez. Dengan cara itulah dia berbakti kepada bangsanya.” (Anton Kurnia)

Kedelapan,  Berani Ditolak. Seorang penulis keren tidak takut ditolak. Prinsipnya, ditolak, perbaiki lagi, dikirim lagi. Ditolak, perbaiki lagi, dan seterusnya. Selalu ingat bahwa risiko dan penolakan adalah bagian dari hidup. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang tidak pernah ditolak. Bahkan para Nabi dan Rasul utusan Tuhan saja pernah ditolak dakwahnya oleh umatnya sendiri. Penolakan adalah ujian dakwah bagi mereka. Mereka itu Nabi dan Rasul pilihan Tuhan juga pernah mengalami penolakan. Apalagi kita, yang hanya butiran deterjen ini. Seandainya JK Rowling takut naskahnya ditolak, kita tidak akan pernah mengenal serial Harry Potter. Seandainya Stephen King takut akan penolakan, kita tidak akan pernah bisa menikmati karya-karya besarnya. Penolakan adalah hal biasa, hal yang wajar yang juga pernah dialami oleh para penulis besar dunia. Jadi jangan pernah takut ditolak. Takut ditolak merupakan hal yang sangat tidak produktif, untuk kehidupan pribadi maupun kehidupan profesional, termasuk dalam menulis. Pahami bahwa penolakan merupakan isyarat bagi kita untuk mencoba sekali lagi, untuk memperbaiki sedikit lagi, untuk berusaha sebentar lagi. Jangan sampai rasa takut ditolak ini kemudian menghalangimu untuk menulis, menjauhkanmu dari impian untuk menjadi penulis. Cobalah, jika naskahmu diterima kau akan bahagia. Jika pun ditolak, kamu sudah belajar banyak hal sepanjang proses menulis itu.

“Ketika tulisan kita ditolak, jangan menyerah. Coba terus, kalau perlu sampai 1.000 kali.” (Seno Gumira Ajidarma)

Kesembilan,  Berani Keren.

“Hanya dengan menulis, aku menjadi tuan bagi diriku sendiri.” (Pramoedya Ananta Toer)

Dengan menjadi penulis, maka konsekuensinya adalah kamu berani keren. Penulis itu keren tak kalah sama selebriti. Sementara yang lain pajang foto profil pakai monyong-monyong, kamu cukup ganti avatarmu dengan sampul buku karyamu. Maka menulislah, perasaan ketika kau melihat buku karyamu mejeng di toko buku akan menjadi salah satu momen terindah dalam hidupmu. 

“Salah satu kegembiraan menjadi penulis adalah kau terus-menerus mendapatkan pengetahuan dan pengalaman baru.” (Anonim)     bersambung.........


Tulungagung, 18 Februari 2022.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jejaring Santri Tegalsari Ponorogo di Tulungagung

Oleh: Imam Agus Taufiq Jejaring Pesantren Tegalsari Ponorogo yang ada di Tulungagung dapat diungkap melalui salah satu ipar Kyai Muhammad Ageng Besari, yaitu Raden Witono/ Syekh Hasan Ghozali yang berkiprah di Tulungagung. Hasil pernikahannya dengan Nyai Jarakan, Syekh Hasan Ghozali memiliki putra-putri antara lain  Kyai Imam Jauhari Mahmud (Notorejo Gondang Tulungagung), Kyai Muntaha (Mbah Muntaha Jarakan Gondang Tulungagung), Kyai Gembrang Serang ( Kyai Ageng Nur Rahmatullah), dan Nyai Robi'ah. Nama lain Syekh Hasan Ghozali Kalangbret, Tulungagung adalah Kyai Ageng Witono atau Kyai Naib Witono atau Kyai Mangun Witono. Mengapa disebut Mbah Witono karena Syekh Hasan Ghozali merupakan sosok yang pertama kali mengadakan kajian-kajian Islam (wiwitane ono: Jawa) di daerah Kalangbret Tulungagung. Syekh Hasan Ghozali sering bersilaturrahmi dengan keluarga-keluarga dari Raden Setro Menggolo ( Syekh Abu Naim Fathullahyang makamnya terletak di barat makam Sentono Lodoyo Blitar) dan Raden Ra...

Ketentraman Hati

 Oleh : Imam Agus Taufiq Di tahun 2021 tentunya setiap orang mempunyai harapan baru. Saya yakin bahwa dengan bergulirnya  tahun baru seiring perjalanan ruang dan waktu pasti mereka ingin menjadikan apa yang mereka kerjakan hari ini harus lebih baik dari hari kemarin. Mengingat bahwa termasuk tanda-tanda orang beruntung adalah apa yang ia kerjakan hari ini harus  lebih baik dari hari kemarin, begitu juga sebaliknya. Dekade saat ini  bangsa kita dirundung yang namanya  bencana yang datang silih berganti, belum lagi musim pandemi yang tak kunjung pergi. Entah sampai kapan kita menanti dan menikmati musim pandemi. Semoga pandemi segera pergi dan harapan baru segera kita nikmati menjemput ridlo Ilahi robbi.  Sebagai masyarakat yang agamis dengan melihat situasi dan kondisi saat ini harus punya ghirrah untuk mendekatkan diri kepada Ilahi robbi. Tentunya kita sadar bahwa hanya kepadaNya kita memohon dan meminta disertai dengan ikhtiar. Dan Allah SWT tak akan merub...

Belajar dari Penulis

 Imam Agus Taufiq  Ngainun Naim adalah seorang doktor bidang Islamic Studies lulusan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Akademisi dan pegiat literasi ini lahir di Tulungagung pada 19 Juli 1975, merupakan sosok figur yang rajin membaca dan menulis. Sosok yang sekarang menjabat kepala LP2M di kampus dakwah dan peradaban IAIN Tulungagung, baginya belajar--menggali ilmu lewat membaca dan menulis adalah bagian jalan hidupnya. Sikap aktif membaca dan menulis kini terus beliau tularkan dari generasi ke generasi. Salah satunya lewat WA Group sahabat pena kita Tulungagung. Sikap aktif menulis juga beliau tuangkan ke dalam buku. Sudah banyak buku yang ditulisnya. Buku beliau yang sangat populer dan digandrungi adalah "The Power of Reading dan The Power of Writing". Dan buku yang baru terbit adalah "Menulis Itu Mudah 40 Jurus Jitu Mewujudkan Karya yang  tophit dan cetak ulang beberapa kali. Buku karya beliau banyak dijadikan bahan referensi dan rujukan mereka yang ...